<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>a quiet bubble on the sea of noise</title>
	<link>http://alamanda.blogsome.com</link>
	<description>anything but personal. some dreams. some keen ons. things I've watch, read, absorb, known and understand. maybe.</description>
	<pubDate>Fri, 14 Jul 2006 10:37:33 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>SUNYI BUENDIA, KEAJAIBAN MACONDO</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/07/14/sunyi-buendia-keajaiban-macondo/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/07/14/sunyi-buendia-keajaiban-macondo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jul 2006 10:31:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Books</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/07/14/sunyi-buendia-keajaiban-macondo/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Nama Gabriel Garcia Marquez pertama kali aku ketahui pada tahun 2001. Waktu itu aku masih semester 4. Memakai kaca mata kuda tebal yang membuatku hanya membaca dan melihat hal-hal yang tidak jauh dari bidang yang kupelajari. Hal pertama yang menggangguku tentang Marquez adalah namanya yang terdiri dari tiga kata, dan rasanya baru mantap kalau tiga-tiganya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/100.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"/></a></p>
	<p>Nama Gabriel Garcia Marquez pertama kali aku ketahui pada tahun 2001. Waktu itu aku masih semester 4. Memakai kaca mata kuda tebal yang membuatku hanya membaca dan melihat hal-hal yang tidak jauh dari bidang yang kupelajari. Hal pertama yang menggangguku tentang Marquez adalah namanya yang terdiri dari tiga kata, dan rasanya baru mantap kalau tiga-tiganya disebutkan. Hal kedua adalah judul bukunya yang pertama kali kuketahui. One Hundred Years of Solitude. mendengar judulnya saja, aku bisa melihat seseorang yang menggigil kedinginan dibawah pohon, tanpa seorangpun melintas, kecuali hujan yang turun tak berkeputusan.</p>
	<p>Firasat atau bukan, orang yang menggigil kedinginan di bawah pohon dan hujan, kesemuanya ada bagian dari sekian fragmen yang ada dalam Seratus Tahun Kesunyian. Laki-laki yang berada di bawah pohon itu adalah Jose Arcadio Buendia. Ketika jiwanya terganggu, istrinya Ursula Iguaran mengikatnya dibawah pohon, memberinya makan setiap hari dalam keadaan terikat, sampai akhirnya ajal menjelang. Dibawah panas dan siraman hujan, hanya beratapkan dedaunan pohon, si tua Buendia berdiri tak terpisahkan dengan batang pohon tak jauh dari rumahnya, di Macondo.</p>
	<p>Salah satu hujan di Macondo berlangsung selama empat tahun, sebelas bulan dan tiga hari. Cukup untuk menghanyutkan perkebunan pisang dimana Mauricio Babilonia bekerja, menghanyutkan hewan ternak milik Aureliano Segundo dan Petra Cotes- kekasih gelapnya , dan membuat ruangan menjadi sangat lembab sehingga ikan-ikan bisa berenang di udara.<br />
Kisah dalam Seratus Tahun Kesunyian adalah cerita mengenai jatuh bangun keluarga Buendia sejak pertama kali mereka membangun koloni di Macondo. Kisah yang melibatkan anak perempuan yang datang berkalung tulang belulang orangtuanya, pemain piano yang romantis tapi menyedihkan, potongan emas batangan yang dititipkan tapi tak kunjung diambil kembali dan perempuan peramal yang menjadi ibu dari beberapa anak dalam keluarga Buendia. </p>
	<p>Fragmen-fragmennya bercerita tentang kedatangan orang-orang Gipsy pimpinan Melquiades yang membawa hal-hal yang ajaib dan belum pernah dilihat, tentang cinta yang melahirkan anak-anak yang menyandang nama yang mirip dan berulang-ulang, tentang dua keluarga yang saling menikahkan anak-anak mereka sehingga keturunan mereka di kemudian hari memiliki ekor iguana, tentang pemberontakan dan perang saudara yang membuat para serdadu kecanduan sehingga mereka bisa berperang tanpa jelas siapa musuhnya, tentang penantian nyaris tanpa akhir dan luapan perasaan yang membabi buta tak terbendung dan tentang ambisi untuk menemukan rahasia membuat emas, hal yang dipertanyakan pula oleh Coelho. One Hundred Years of Solitude adalah kisah tentang bagaimana kenyataan bisa dipertanyakan, bagaimana hal-hal yang kita anggap sewajarnya dan tanpa perubahan bisa diputarbalikkan. Bagaimana jika kita mengalami insomnia yang parah dan kehilangan ingatan atas semua benda yang setiap hari kita lihat, atas hal-hal yang setiap hari kita lakukan. Kalau kita melupakan nama hari, apakah bedanya Senin dan Jumat? Rabu dan Minggu?<br />
Apa yang akan kau lakukan jika tempat tidurmu berturut-turut didatangi tujuhbelas perempuan yang berbeda, yang bahkan kau tidak tahu namanya? Bagaimana kau akan mengenali tujuh belas anak laki-laki yang lahir dari perempuan-perempuan itu meskipun anak-anak itu lahir dengan menyandang nama depan ayah mereka. </p>
	<p>Aku sempat percaya bahwa kisah-kisah dalam Seratus Tahun Kesunyian adalah kenyataan lain yang mungkin terjadi di dunia yang paralel dengan dunia dimana hidupku berada, tapi tidak akan menyeberang mendekatiku. Ternyata aku salah. Fragmen-fragmen dalam kisah itu perlahan-lahan mendekat dan bahkan bisa melompat ke hadapanku, menunjukkan realita yang selama ini aku anggap surreal. Ketika batas antara hidup sehari-hari dan mimpi semakin tipis, ketika ruang nyata dan ruang maya bisa dipertukarkan posisi dan isinya. Ketika aku menyadari bahwa panduan dan petunjuk yang selama ini kuterima dan kujalankan, tidak lagi bisa mencukupi kebutuhanku untuk bertahan hidup di dunia nyata&#8230; atau setengah nyata, karena sisanya berasal dari bayangan. Khayalan.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/07/14/sunyi-buendia-keajaiban-macondo/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>DROP DEAD GORGEOUS</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/04/20/12/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/04/20/12/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Apr 2006 03:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Art</category>
	<category>People</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/04/20/12/</guid>
		<description><![CDATA[	
	&#8220;Orangtua saya adalah pemilik tempat bermain pachinko, dan saya mencintai pachinko, jadi pose ini sama sekali nggak sulit. Saya melakukan sesuatu yang saya cintai. Satu-satunya yang saya khawatirkan adalah apa yang kira-kira dipikirkan orangtua saya&#8221;
	Begitulah yang dikatakan Eiko Koike mengenai pose dalam keadaan seolah-olah meninggal-nya untuk fotografer Izima Kaoru, yang memotretnya untuk proyek buku &#8220;The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/drop_dead_gorgeous.jpg" border="0" alt="Image hosting by Photobucket"/></a></p>
	<p>&#8220;Orangtua saya adalah pemilik tempat bermain pachinko, dan saya mencintai pachinko, jadi pose ini sama sekali nggak sulit. Saya melakukan sesuatu yang saya cintai. Satu-satunya yang saya khawatirkan adalah apa yang kira-kira dipikirkan orangtua saya&#8221;</p>
	<p>Begitulah yang dikatakan Eiko Koike mengenai pose dalam keadaan seolah-olah meninggal-nya untuk fotografer Izima Kaoru, yang memotretnya untuk proyek buku &#8220;The Last View&#8221; atau &#8220;Saigo ni Mita Fukei&#8221; dalam bahasa Jepang. Koike memakai evening dress mini rancangan Versace, yang hanya sedikit saja menutupi dadanya, memandang langit-langit tanpa ekspresi hidup dimatanya, sendiri dan dikelilingi bola-bola pachinko yang bertebaran. Koike ingin terlihat seolah sedang bermain pachinko, mendapatkan jackpot dan tewas karena shock. </p>
	<p>Kaoru yang fotografer fashion sudah memotret para model dalam pose kematian sejak tahun 1993. Mulanya karena dia jenuh dengan pose pilihan para editor fashion, yang melulu mengambil scene makan, minum, mobil mewah, atau belanja. Baginya, hidup jauh lebih luas daripada itu, dan kematian adalah salah satu bagian terbesar dalam hidup. Tentu saja ide ini tidak disambut gembira oleh para editor majalah. Toh Kaoru berhasil meyakinkan aktris Kyoko Koizumi, yang disusul dengan sejumlah nama terkenal lainnya seperti UA, Mari Natsuki, atau Michelle Reis. </p>
	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/the_snow.jpg" border="0" alt="Image hosting by Photobucket"/></a></p>
	<p>Menurutku, ide memotret pose kematian ini adalah ide yang brillian. Tak heran saat ini ada antrian panjang untuk menjadi model Kaoru. Seorang model harus menunggu sedikitnya 2 tahun sebelum bisa mengutarakan dalam keadaan seperti apa mereka ingin meninggal. Percaya atau tidak, jawaban seorang perempuan mengenai pose kematian yang diinginkannya jauh lebih menarik daripada laki-laki. Karena itu, foto-foto Kaoru nyaris seluruhnya menampilkan model perempuan. </p>
	<p>Ada yang meninggal dihadapan vending machine. Mungkin ada yang menembaknya waktu sedang membeli minuman kaleng. Yang lain dibunuh seorang pengemudi truk, lalu mayatnya dilemparkan keatas tumpukan tomat merah yang matang. Seorang gadis sedang berjalan kaki disuatu malam di musim dingin, menuju toko serba ada di dekat rumahnya waktu seorang pembunuh berantai beraksi. Ada pula yang dibunuh di ruang tunggu bandara. Salah satu yang fantasinya paling menarik adalah yang meninggal dalam keadaan tergeletak di atas padang rumput. Di dadanya sebuah panah berwarna biru menancap. </p>
	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/the_terminal.jpg" border="0" alt="Image hosting by Photobucket"/></a></p>
	<p>Kalo aku jadi model untuk Izima Kaoru, dia boleh memotretku di ruang penyimpanan CD. Aku adalah agen rahasia yang berusaha mencuri bukti yang disembunyikan diantara ribuan CD yang tersimpan di ruangan itu waktu ditembak dari jarak dekat dengan pistol berperedam. Darah membasahi bagian depan kemeja yang kukenakan akibat peluru yang ditembakkan dari punggung dan menembus jantungku. Aku tidak memakai rompi antipeluru hari itu. ID palsu yang tersemat di dadaku juga terkena percikan darah. Ekspresi kaget menghiasi wajahku. Yang menembakku adalah orang yang kukenal, yang tak kuduga akan berkhianat. Di tangan kananku tergenggam erat sebuah tempat CD yang kosong. Sebuah misi yang gagal harus dibayar dengan kematian.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/04/20/12/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>MENCINTAI BATIK</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/03/08/mencintai-batik/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/03/08/mencintai-batik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2006 03:30:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Indescribable</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/03/08/mencintai-batik/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Aku lahir di Jawa, dari ayah dan ibu yang berdarah Jawa, dan kadang-kadang masih merasa diriku sebagai orang Jawa. Meskipun dalam banyak kesempatan aku kesulitan mendeskripsikan diriku, karena terlepas dari urusan keturunan, aku lebih merasa sebagai orang Kalimantan, dan sekarang orang Ubud. Kalau ada satu hal yang akhir-akhir ini mengusik identitas dan perasaan ke-Jawa-anku, itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/udanliris.jpg" border="0" alt="Image hosting by Photobucket"/></a></p>
	<p>Aku lahir di Jawa, dari ayah dan ibu yang berdarah Jawa, dan kadang-kadang masih merasa diriku sebagai orang Jawa. Meskipun dalam banyak kesempatan aku kesulitan mendeskripsikan diriku, karena terlepas dari urusan keturunan, aku lebih merasa sebagai orang Kalimantan, dan sekarang orang Ubud. Kalau ada satu hal yang akhir-akhir ini mengusik identitas dan perasaan ke-Jawa-anku, itu adalah Batik. Di galeri, setiap hari aku berurusan dengan Batik berkualitas tinggi yang sangat halus dan baik buatannya.</p>
	<p>Karena sebuah tugas, akhir minggu lalu aku menghabiskan dua hari mempelajari buku-buku tentang batik dan membuat ulasan pendek mengenai berbagai macam jenis batik koleksi Komaneka. Aku harus belajar dari awal, dan itu sangat melelahkan, menyerap begitu banyak informasi dalam waktu yang sangat singkat, tetapi proses itu adalah juga proses yang sangat menyenangkan ketika aku mulai berhasil menguasainya. Aku belajar mengenal Batik dari berbagai daerah, misalnya Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Kudus, Lasem, Cirebon, Pacitan, Wonogiri, Indramayu bahkan Madura. Aku juga mengenal berbagai jenis motif batik, baik berdasarkan daerahnya, pewarnaan, teknik pembuatan, dan berdasarkan periode.</p>
	<p>Beberapa motif yang aku kenal dengan baik sekarang ini diantaranya Parang dan berbagai variasinya, seperti Parang Barong, Parang Rusak, Parang Kesit, Parang Kesit Tumaruntum, Udan Liris, Truntum, Lereng Cemeng, Taman Terate, berbagai jenis Batik Buketan, Paksi Naga Liman, Kembang Randu, Mega Mendung, Alas-Alasan dan beberapa macam variasi Lokcan.</p>
	<p>Pembagian berdasarkan periode dan motif adalah yang paling sulit karena ada sejumlah motif yang mula-mula dianggap terlarang, karena hanya boleh dipakai oleh bangsawan dan keluarga raja,seperti misalnya parang dan beberapa jenis motif lereng dan nitik, pada akhirnya menjadi motif yang juga dipakai orang kebanyakan. ada pula motif yang berkembang pada tahun tertentu saja, seperti misalnya Batik pada periode Perang Dunia II dan batik yang dipengaruhi Belanda. Yang terakhir ini sangat aku kagumi, karena orang-orang tua kita di masa lalu mem-filter pengaruh asing dengan menyerapnya, dan memasukkannya ke dalam budaya yang sudah kita miliki. Batik. Puluhan gambar di dalam buku-buku itu menunjukkan para Nyonya Belanda dan Cina memakai kebaya dan batik untuk busana sehari-harinya. </p>
	<p>Motif yang paling romantis menurutku adalah Udan Liris. Kata tersebut bermakna Hujan Gerimis, yang mengingatkanku pada bau tanah basah selepas gerimis, udara yang dipenuhi aroma hujan yang segar, dan ribuan jarum yang turun perlahan seperti tirai di hadapan mata. Udan Liris adalah salah satu motif Larangan, yang populer baik di Yogyakarta maupun di Surakarta. Motif ini adalah gabungan dari berbagai motif, yang semuanya dikerjakan dalam pola diagonal yang halus. mulai dari parang, ular, garis zig-zag, titik, daun dan sulur bunga, menjadi rangkaian yang sangat menarik. Foto Udan Liris aku pasang disini.</p>
	<p>Sepertinya aku akan menyambut tawaran untuk belajar membuat batik dari siapapun saat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/03/08/mencintai-batik/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>CATATAN KEKAGUMAN</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/21/catatan-kekaguman/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/21/catatan-kekaguman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2006 03:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Music</category>
	<category>People</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/21/catatan-kekaguman/</guid>
		<description><![CDATA[	
	Ada sejumlah alasan mengapa Ubud menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Udaranya sejuk dan relatif bebas dari polusi, pemandangannya indah dan masih alami, atmosfer kesenian yang sangat kuat, kebudayaan Bali yang masih kental dan bisa dirasakan kehadirannya, tidak macet, tidak ada kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari karena terdapat pasar dan supermarket dan sejumlah toko 24 jam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/balawan_com.jpg" border="0" alt="Image hosting by Photobucket"/></a></p>
	<p>Ada sejumlah alasan mengapa Ubud menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Udaranya sejuk dan relatif bebas dari polusi, pemandangannya indah dan masih alami, atmosfer kesenian yang sangat kuat, kebudayaan Bali yang masih kental dan bisa dirasakan kehadirannya, tidak macet, tidak ada kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari karena terdapat pasar dan supermarket dan sejumlah toko 24 jam yang cukup lengkap, restoran dan hotel berstandar internasional pun nggak sulit untuk dicari. Hanya ada satu yang nggak aku perhitungkan ketika mulai tinggal disini. Ubud memiliki musisi yang luar biasa, dengan reputasi dan pengalaman internasional yang nggak main-main.</p>
	<p>Balawan namanya. Tak pernah terbersit dalam pikiranku kalau aku akan berkesempatan menyaksikan pertunjukannya disini. Aku sudah bertemu dengan banyak musisi, artis, atau apalah namanya dari pekerjaankku sebelumnya, dan baru kali ini aku menaruh kagum lagi. Setelah sebelumnya kekaguman itu kuberikan pada Chrisye. Perjalanan karir Balawan sudah banyak ditulis. Disini aku lebih tertarik menuliskan opini pribadiku tentang Balawan.</p>
	<p>Hal pertama yang patut dicatat dari Balawan tentu saja adalah kemampuannya memainkan gitar, kemampuannya menginterpretasi sebuah lagu menjadi sama sekali baru (dan seringkali lebih baik daripada ketika dibawakan penyanyi aslinya) serta kemampuannya memberikan roh pada musik yang dia mainkan. Balawan adalah juga penghibur yang baik. Dalam setiap pertunjukannya, dia bisa mengendalikan suasana dan mengetahui, bagaimana cara mengolah emosi penonton sehingga dinamika pertunjukan tetap terjaga.</p>
	<p>Hal kedua adalah kepribadiannya yang rendah hati. Dengan kemampuan dan pengalaman yang sudah teruji, ia memiliki semua alasan untuk berbangga diri. Alih-alih menepuk dada, ia justru menanggapi kemampuannya dengan ringan. Tidak sombong, tidak menafikkan, tetapi ringan. Seolah tanpa beban. Dalam salah satu pertunjukannya dengan Trio di Ubud, dia berkata &#8220;Jangan shock karena saya bisa mengeluarkan berbagai suara dari gitar ini. Ini adalah bantuan dari teknologi untuk menyiasati situasi bermain hanya dengan tiga orang&#8221;.<br />
Aku pernah tau gitaris lain yang justru semakin menjadi-jadi ketika penonton menyorakinya waktu bermain gitar sambil berganti-ganti efek.</p>
	<p>Kesederhanaannya adalah hal yang lain. Kalau tidak sedang memainkan gitar diatas panggung, mungkin dia tidak akan bisa dikenali. Auranya juga berbeda. Kalau dia sedang tidak berada diatas panggung, cobalah bicara padanya. Ada bagian dari dirinya yang tidak pernah menjadi dewasa. Polos dan sederhana, seperti kanak-kanak yang lugu. Kalau bukan karena dia berada di hadapanku waktu sedang berbicara, aku nggak akan percaya kalau aku sedang menghadapi laki-laki berusia 33 tahun dengan begitu banyak kemampuan dan pengalaman.</p>
	<p>Aku berharap ada lebih banyak musisi sebaik dia.</p>
	<p>PS: Image Balawan aku ambil dari website <a href="http://www.wayanbalawan.com" target="_blank">ini</a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/21/catatan-kekaguman/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SHOCKING FEELING ON A BLEAK MORNING</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/06/9/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/06/9/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2006 06:40:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Art</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/06/9/</guid>
		<description><![CDATA[	
	bagaimana rasanya menerima gambar ini lewat email di suatu pagi? absolutely shocking. a shocking feeling on a bleak morning. begitu bunyi sms yang aku kirimkan pada Yuli Prayitno. seniman yang bikin karya ini. 
	aku yang pernah setahun lebih bicara di depan mikrofon dan memaksa ribuan orang mendengar celotehanku, informasi yang aku sampaikan, joke garing yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><a href="http://photobucket.com" target="_blank"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/yuli.jpg" border="0" alt="Image hosting by Photobucket"/></a></p>
	<p>bagaimana rasanya menerima gambar ini lewat email di suatu pagi? absolutely shocking. a shocking feeling on a bleak morning. begitu bunyi sms yang aku kirimkan pada Yuli Prayitno. seniman yang bikin karya ini. </p>
	<p>aku yang pernah setahun lebih bicara di depan mikrofon dan memaksa ribuan orang mendengar celotehanku, informasi yang aku sampaikan, joke garing yang aku siarkan, sampai lagu-lagu yang acapkali aku pilih dengan sesukaku sendiri. ya, memang ada playlist. tapi kan dari playlist itu masih aku juga yang memilih. lagu apa, pada menit dan detik ke berapa aku putarkan. betapa berkuasanya aku atas selera dan telinga orang-orang di yogyakarta waktu itu. </p>
	<p>lalu sekarang perasaan ribuan orang itu seperti dikembalikan lagi padaku oleh Yuli. sekarang loe yang dengerin gue. begitu katanya.<br />
sejak dua tahun yang lalu aku kenal Yuli dan ada beberapa karyanya yang aku udah liat. sebagian besar tentu saja nggak aku mengerti. tapi kesenian memang pilihan pribadi, jadi pemahamannya pun sangatlah personal. aku nggak perlu memahami apa yang ingin disampaikan seniman tepat seperti apa yang dia inginkan. yang penting adalah bagaimana perasaan dan tanggapanku tentang sebuah karya. dan di pagi yang dingin dan basah itu, sekali lagi karya Yuli menggangguku.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/06/9/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>GIGER FROM HELL</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/01/giger-from-hell/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/01/giger-from-hell/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2006 02:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Books</category>
	<category>Art</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/01/giger-from-hell/</guid>
		<description><![CDATA[	diangsurkannya buku itu padaku sambil bertanya apakah aku mengenal nama orang yang menjadi judul buku itu. HR GIGER ARh+. demikian yang tertulis di sampulnya. aku melihat penerbitnya; TASCHEN. mestinya orang ini, siapapun dia, bukanlah orang sembarangan karena penerbit bukunya adalah salah satu penerbit internasional yang baik.
	keterangan singkat yang aku terima tentang Giger adalah bahwa dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>diangsurkannya buku itu padaku sambil bertanya apakah aku mengenal nama orang yang menjadi judul buku itu. HR GIGER ARh+. demikian yang tertulis di sampulnya. aku melihat penerbitnya; TASCHEN. mestinya orang ini, siapapun dia, bukanlah orang sembarangan karena penerbit bukunya adalah salah satu penerbit internasional yang baik.</p>
	<p>keterangan singkat yang aku terima tentang Giger adalah bahwa dia merupakan seniman yang membuat efek visual untuk film ALIEN. tunggu dulu&#8230; aku tau film itu yang akhirnya terdiri dari tiga film berturut-turut. ALIEN 1,2 dan 3. tapi siapa Giger ini? seniman mana yang karyanya menggambarkan dunia yang entah dimana, dengan objek yang merupakan gabungan dari manusia, binatang, makhluk gaib, dan kondom? dengan setting yang serba suram, seperti pabrik tua, tambang yang sudah tak terpakai, galangan kapal yang nyaris karam, atau dunia yang terdiri dari mesin-mesin dan sekrup berkarat?</p>
	<p>setiap bagian yang aku baca dari buku tentang Hans Ruedi Giger ini memberiku berbagai kejutan menarik. kejutan pertama, yang menulis pengantar buku ini adalah Timothy Leary, salah satu pahlawan Generasi Bunga yang tentu saja, kontroversial. demikian Leary pada Giger&#8230;</p>
	<p>Giger, you see more than we domesticated primates. Are you some super-intelligent species? Are you a viral visitor staring with your petalled-poppy eyes into our reproductive organs?</p>
	<p>tantu saja pikiran-pikirannya mengejutkan. tapi yang juga menarik adalah bagaimana dia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang hangat dan stabil. sehingga Giger memiliki kedalaman perasaan terhadap ayah dan juga ibunya&#8230;<br />
untuk menggambarkan ayah yang melihat bagaimana anaknya nyaris menghancurkan laboratorium apoteknya, mengkoleksi patung-patung lilin dan plastik berbentuk tubuh manusia, membuat guillotine dan kereta hantu lengkap dengan lintasannya di rumah&#8230; demikian Giger berkata&#8230;</p>
	<p>My father was an authoritarian but kind man who never hit me. Except for once. In his place, I would probably have murdered me.</p>
	<p>Giger bekerja sama dengan sutradara Scott Ridley untuk menciptakan seluruh makhluk dan benda-benda dalam film Alien. Lalu dia melanjutkannya untuk sejumlah film yang lain seperti Poltergeist II, membuat monster Goho Dohji untu sebuah film Jepang dan menciptakan extraterrestrial beauty dan ghost train untuk film Species. obsesinya pada warna hitam, guillotine, patung lilin, bretel, mesin, revolver, wanita dan imajinasinya terhadap ruang, terowongan, hantu, dewa-dewa dari dunia lain (kalo tau Necronomicon dan Cthulhu, pasti ngerti apa yang aku maksud) terlihat jelas dalam karya-karnyanya. Giger juga nggak membatasi diri, dia bekerja dengan berbagai macam teknik, membuat objek tiga dimensi, dan juga menguasai grafis. tapi tentu saja, seniman yang terkenal pun, tetep aja bermasalah dengan administrasi dan birokrasi.</p>
	<p>The Dutch custom once thought my pictures were photos. Where on earth did they think I could have photographed my subjects? In Hell, perhaps? Only after getting an expert to come in specially and certify that my works were indeed air-brushed would they let the pictures through.</p>
	<p>kisah pahlawan nggak akan lengkap tanpa sisi tragis. kehidupan pribadi Giger adalah cerita yang sedih. hubungannya selama sembilan tahun dengan aktris Li Tobler berakhir di tahun 1975 ketika Li bunuh diri dengan sebuah pistol. kehilangan yang menghantui karyanya selama bertahun-tahun. pernikahannya dengan Mia Bonzanigo juga hanya bertahan selama 1,5 tahun.</p>
	<p>oya, walaupun bukan anggota, Giger pernah hadir dalam sebuah pertemuan internasional Hell&#8217;s Angel karena ia mendesain poster untuk kelompok pengendara motor gede itu.</p>
	<p>kalo sewaktu-waktu pergi ke Tokyo, atau Chur (di Swiss) mampirlah di Giger Bar untuk minum bersama para alien yang barusan aja mendarat, baik untuk menengok pangkalan mereka di bumi, atau sekedar transit, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jupiter.</p>
	<p><a href="http://www.HRGiger.com">www.HRGiger.com</a><br />
<a href="http://www.HRGigerMuseum.com">www.HRGigerMuseum.com</a><br />
<a href="http://www.HRGigerAgent.com">www.HRGigerAgent.com</a><br />
<a href="http://www.Giger.com">www.Giger.com</a><br />
<a href="http://www.LittleGiger.com">www.LittleGiger.com</a>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/02/01/giger-from-hell/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>MENYENTUH LANGIT</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/28/6/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/28/6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2006 03:48:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Art</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/28/6/</guid>
		<description><![CDATA[	
	ya. ini adalah karya Pande Ketut Taman, yang dipasang saat Summit Bali Biennale 2005. Pande Ketut Taman, selama beberapa tahun terakhir tinggal di Muntilan, Magelang. pada saat pembuatan karya ini, sejak akhir Oktober, Taman memindahkan studionya untuk sementara ke Bale Banjar Pande dan praktis setelah libur Idul Fitri, aku membantu Taman mengerjakan karya instalasinya, &#8220;Menyentuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/taman02.jpg" alt="Image hosting by Photobucket"/></p>
	<p>ya. ini adalah karya Pande Ketut Taman, yang dipasang saat Summit Bali Biennale 2005. Pande Ketut Taman, selama beberapa tahun terakhir tinggal di Muntilan, Magelang. pada saat pembuatan karya ini, sejak akhir Oktober, Taman memindahkan studionya untuk sementara ke Bale Banjar Pande dan praktis setelah libur Idul Fitri, aku membantu Taman mengerjakan karya instalasinya, &#8220;Menyentuh Langit&#8221;. setiap pagi menjelang siang, aku akan pergi ke Banjar Pande. memotret proses kerja mereka. lalu sorenya, aku akan menunggu mereka di galeri untuk merakit bagian-bagian instalasi yang sudah dikerjakan hari itu. </p>
	<p>instalasi itu panjangnya enambelas meter dan bagian yang paling tinggi sekitar dua setengah meter. mula-mula rangka bambu, lalu ikatan-ikatan jerami untuk alas atas, ikatan jerami untuk ornamen struktur, sampai akhirnya ratusan figur yang dibuat dari adonan tepung beras yang digoreng. sebagai pelengkap artistik, Taman memasang senar dari langit-langit galeri menuju karya itu, sedemikian rupa sehingga saat cahaya matahari menerobos masuk, ada permainan cahaya yang mistis dan menakjubkan. hari demi hari, aku mengikuti proses dan merekam nyaris semuanya. setiap hari aku berdiskusi panjang lebar dengan Taman. memahami caranya berpikir, memahami konsep karyanya yang sarat dengan tradisi bali, menemukan lagi semangat komunal yang sudah nyaris lenyap dari dunia nyata. ada banyak sekali yang kudapat dan aku pelajari, dan diatas segalanya adalah percakapanku dengan Taman. walaupun kami bicara dengan bahasa yang berbeda, namun kami punya pemikiran dan pemahaman yang sama.</p>
	<p>menyentuh langit berangkat dari konsep yang sama dengan Candi Borobudur. ini adalah karya yang menggambarkan perjalanan manusia. mulai dari penciptaan kemudian perjalanan menuju surga yang berawal dari bawah, mengikuti struktur spiral sampai di puncak. dari orang-orang yang masih belum bisa melepaskan diri dari pengaruh duniawi, yang terlihat dari warna-warna yang mereka kenakan, sampai pada orang-orang yang berhasil mencapai tingkat spiritual yang tinggi. disucikan dan warna yang mereka kenakan menjadi sederhana. putih, cokelat dan kuning. lalu sesampai di puncak, tinggallah dua pilihan. naik ke surga, atau jatuh ke dunia dan lahir kembali. reinkarnasi.</p>
	<p>dunia-adalah-fana. Taman menunjukkannya dengan bahan yang dia pergunakan. bambu dan jerami yang lapuk dimakan cuaca dan serangga kecil. boneka-boneka tepung beras goreng yang kemudian basi, membusuk dan tumbuh jamur menutupinya. semua yang ada di dunia ini akan hancur pada saatnya. sama dengan karya ini. yang kemudian lenyap ditelan bumi. </p>
	<p>menyentuh langit mendapatkan penghargaan sebagai karya terbaik Bali Biennale 2005</p>
	<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/taman01.jpg" alt="Image hosting by Photobucket"/></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/28/6/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>ESTHAPAPPYCHACHEN KUTTAPPEN PETER MON</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/25/8/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/25/8/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2006 07:09:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Books</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/25/8/</guid>
		<description><![CDATA[	demikian nama panggilan Esthappen Yako, tokoh favoritku dalam The God of Small Things. Arundhati Roy benar-benar berhasil menghidupkan untukku dua orang anak kembar yang jiwanya kembar siam, Estha dan Rahel. dan berhasil pula membawaku ke India. Ke Ayemenem, ke Kottayam, ke Kerala. Estha jadi tokoh favoritku karena dia tergila-gila pada kebersihan, karena dia pergi berbelanja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>demikian nama panggilan Esthappen Yako, tokoh favoritku dalam The God of Small Things. Arundhati Roy benar-benar berhasil menghidupkan untukku dua orang anak kembar yang jiwanya kembar siam, Estha dan Rahel. dan berhasil pula membawaku ke India. Ke Ayemenem, ke Kottayam, ke Kerala. Estha jadi tokoh favoritku karena dia tergila-gila pada kebersihan, karena dia pergi berbelanja (bawang, brinjal dan tomat) dan selalu mendapatkan tambahan seuntai daun ketumbar dan cabe hijau. karena warna kulit Estha seperti madu dan dia mencuci pakaian dengan sabun berwarna biru. Estha berhenti bicara sejak lama dan dia menyatu dengan apapun&#8230;dimanapun&#8230;tak dikenali, tak mengganggu.</p>
	<p>bagiku, hal yang paling mengagumkan dalam buku ini adalah bagaimana alur cerita dibangun. bagaimana dalam setiap bab, selalu ada kejadian yang patut disimak, dan tidak hanya satu bab saja yang berisi hal yang menegangkan. bab-bab awal tidak bercerita mengenai pengenalan tokoh saja. dan bagian akhir tidak berarti klimaks. kadang-kadang segala sesuatu di dalamnya berlangsung dengan cepat. kadang lambat dan halus. kadang melompat-lompat seperti kodok yang licin dan basah, dari satu daun teratai ke daun teratai yang lain di kolam.</p>
	<p>aku nggak tau bagaimana orang lain melihat buku ini. tapi bagiku, nggak jadi masalah kalau membaca buku ini dari tengah, lalu mundur ke bagian awal dan kemudian melanjutkannya ke belakang. urutan membaca akan menentukan, apakah kita akan kenal lebih dulu dengan Ammu, Baba, Baby Kochamma, Mamachi, Papachi, Velutha, Chacko, Margaret Kochamma, Sophie Mol, Joe, Vellya Paapen, Comrade K. N. M. Pillai, Inspector Thomas Matthew, Kochu Maria, atau Rahel&#8230;atau Estha&#8230; dua anak kembar tanpa nama keluarga, karena Ammu tidak bisa memutuskan, akan memakai nama belakang dari Baba atau Papachi. sampai dia meninggal.</p>
	<p>sejatinya, ini adalah kisah cinta yang diperkeruh oleh perbedaan kasta, suasana politik dan ketidaksetaraan gender. its&#8217; about the Love Laws. The laws that lay down who should be loved and how. and how much. ketika mengetahui Velutha yang Paravan dan Ammu saling mencintai, Mamachi dan Baby Kochama yang picik lalu menguncinya di dalam kamar. Estha dan Rahel yang baru berusia tujuh tahun dan sama sekali nggak ngerti apa-apa menanyakan pada Ammu apa yang terjadi. dalam kemarahan dan keputusasaan, Ammu memarahi mereka, menyebut mereka beban yang menjerat leher. Estha yang ketakutan akan kehadiran Orangedrink Lemondrink Man dan mendengar kata-kata Ammu memutuskan bahwa dia dan Rahel harus segera kabur. walaupun saat itu gelap dan dingin. Sophie Mol berusaha keras meyakinkan kedua sepupunya untuk ikut serta. Mereka naik perahu yang jadi saksi kisah cinta Ammu dan Velutha, di tengah malam buta. menyeberang sungai yang meluap karena hujan menuju Rumah Sejarah. mereka berhasil sampai di sana, tapi Sophie Mol yang tidak bisa berenang terseret arus, dan tak bisa diselamatkan. kematian Sophie Mol membuat Chacko murka, yang kemudian menyalahkan Ammu, janda yang kembali ke rumah orang tuanya setelah perceraian. Kemasi tasmu dan pergilah! katanya pada Ammu. kemarahan dan dukacita Chacko membuat Estha dan Rahel dipisahkan. membuatnya pergi ke Kanada dan tak pernah kembali ke Ayemenem. walaupun cerita tak berakhir disitu.</p>
	<p>A quiet bubble floating on a sea of noise. adalah kalimat terbaik yang ditulis Arundhati Roy tentang Estha.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/25/8/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>DAN KAU BERI NYAWA&#8230;</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/24/dan-kau-beri-nyawa/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/24/dan-kau-beri-nyawa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2006 02:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Music</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/24/dan-kau-beri-nyawa/</guid>
		<description><![CDATA[	piano itu ada disana setiap hari. di lantai dua galeriku, tepatnya di sudut antara puncak tangga dengan pintu ke arah ruang kerja pak Koman. kadang-kadang aku duduk didepannya. mencoba memainkan beberapa nada dengan canggung sambil mengingat-ingat pelajaran yang pernah kuterima dulu. tak jarang ada yang datang dan duduk di depannya, lalu memainkan berbagai lagu. ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>piano itu ada disana setiap hari. di lantai dua galeriku, tepatnya di sudut antara puncak tangga dengan pintu ke arah ruang kerja pak Koman. kadang-kadang aku duduk didepannya. mencoba memainkan beberapa nada dengan canggung sambil mengingat-ingat pelajaran yang pernah kuterima dulu. tak jarang ada yang datang dan duduk di depannya, lalu memainkan berbagai lagu. ada yang selalu memainkan komposisi yang sama. seperti sedang berlatih selama beberapa jam dengan piano itu. ada pula yang datang untuk memainkannya sambil menyanyi. ah&#8230; suara si penyanyi ditingkahi suara piano. aku rasa si grand piano hitam ingin supaya dia berhenti menyanyi, sama sepertiku. ada pula seorang kaukasian berambut pirang selalu memainkan lagu-lagu yang sedih dan pilu. sampai aku duduk dengan tegak diruanganku sambil berpikir mungkin si pemain piano sedang patah hati. </p>
	<p>belum pernah ada yang memainkannya seperti Kazue Inoue.</p>
	<p><img src="http://img.photobucket.com/albums/v201/nomadelfia/kkazue.jpg" alt="Image hosting by Photobucket"/></p>
	<p>hari itu, minggu, 18 Desember 2005&#8230; untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat sebuah piano seperti bernyawa. bukan lagi sekedar sebuah instrumen yang dipakai untuk memainkan lagu. Kazue Inoue memberi&#8230; ah, tepatnya memindahkan nyawanya ke dalam piano hitam dilantai dua galeriku. lalu dengan piano hitam itu dia bicara, bercerita dan tertawa. aku nggak tau komposisi apa yang dia mainkan. tidak penting apakah itu Weber, Chopin atau Mozart. yang jelas, aku bisa memahami ceritanya. mengerti bahwa cerita ini adalah cerita gembira, sedih, tegang, bahkan memahami bahwa tokoh dalam cerita yang disampaikan piano itu, sedang menjalani sesuatu yang misterius dan rahasia, yang membuat dia harus berjalan mengendap-endap dan bicara dengan suara lirih, supaya nggak ketahuan. lalu di bagian yang lain, tampaknya si tokoh sedang bersenang hati, menikmati suasana pagi yang indah dengan burung yang berkicau dan matahari yang bersinar lembut. entah apa kisahnya, tapi aku berdiri terpaku disana, menatap jemarinya yang lincah diatas tuts piano dan di benakku ada padang rumput yang luas, petak-petak bunga dan kolam yang airnya berwarna keperakan tertimpa cahaya mentari.</p>
	<p>terima kasih karena telah mengajakku sampai kesana dengan musikmu, Kazue-san. aku tak akan melupakanmu.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/24/dan-kau-beri-nyawa/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>RUMAH BAMBU</title>
		<link>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/15/rumah-bambu/</link>
		<comments>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/15/rumah-bambu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2006 06:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dian ina</dc:creator>
		
	<category>Indescribable</category>
	<category>Books</category>
		<guid>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/15/rumah-bambu/</guid>
		<description><![CDATA[	aku tertarik pada judulnya karena mengingatkanku pada salah satu keinginanku dimasa remaja. kamar tidur yang sepenuhnya terbuat dari bambu. sayangnya keinginan itu tidak tercapai karena papa lebih suka rumah yang terbuat dari tembok.
seperti halnya buku-buku Y.B Mangunwijaya yang lain, Rumah Bambu adalah potret kehidupan orang-orang yang hadir dalam keseharian Romo Mangun. orang miskin, orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>aku tertarik pada judulnya karena mengingatkanku pada salah satu keinginanku dimasa remaja. kamar tidur yang sepenuhnya terbuat dari bambu. sayangnya keinginan itu tidak tercapai karena papa lebih suka rumah yang terbuat dari tembok.<br />
seperti halnya buku-buku Y.B Mangunwijaya yang lain, Rumah Bambu adalah potret kehidupan orang-orang yang hadir dalam keseharian Romo Mangun. orang miskin, orang yang terpinggirkan, orang yang selalu tersisih dalam standar hidup dimana pencitraan diukur dengan jumlah uang dan gaya yang mentereng.</p>
	<p>buku ini adalah kumpulan cerpen yang pertama dan terakhir karangan Romo Mangun yang pernah diterbitkan. semua cerpennya berangkat dari cerita yang remeh dan biasa. nggak ada yang istimewa, nggak ada yang hiperbola, nggak ada kenyataan yang menakjubkan seperti misalnya udara yang sangat lembab sehingga ikan-ikan bisa berenang disitu. Romo Mangun bercerita tentang pemuda desa yang kehabisan akal sehingga memilih bekerja menjadi pengamen waria, anak kecil yang mencuri sekaleng cat, pembelah batu di sungai, anak yang kabur dari rumah untuk jadi kernet colt, anak penebang kayu yang sangat suka membaca&#8230;sebuah rumah kayu yang dibangun seorang jongos motel untuk istri dan anaknya. </p>
	<p>sebagian ceritanya bernada getir. sebagian lagi bikin mau marah, dan yang lain bikin jadi geli, tapi juga sebal. yang paling lucu dan getir buatku adalah kisah Baridin. pemuda desa yang kulitnya hitam keling dan mengganjal dadanya dengan kapuk randu, memakai kain batik dan kebaya merah darah menerawang, stagen dan selendang untuk berpura-pura menjadi waria dan menyanyi lagu dangdut, dengan simbal yang dipinjamnya dari perkumpulan Zamroh. waktu berdandan, ia menyebut dirinya seperti binteng, manisan jahe tradisional hitam yang selalu dijual dalam selimut tepung beras putih.</p>
	<p>manis tapi menjijikkan. bedaknya rata tapi nggak pantas. belum lagi ketika bekerja, tukang becak dan pedagang di pasar pecinan menggodanya.<br />
&#8220;kamu sumpel apa tetekmu itu, cah bagus?&#8221; tanya mbok pedagang.<br />
&#8220;supermi!&#8221; jawab tukang becak.</p>
	<p>aku jadi berpikir, jangan-jangan waria yang membawa kecrekan, yang setiap malam bernyanyi di sekitar tugu jogja, setasiun tugu, sampai malioboro dan nyaris selalu menyanyikan lagu Garuda Pancasila itu sebetulnya Baridin yang lain.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alamanda.blogsome.com/2006/01/15/rumah-bambu/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
