Dian Ina

About Me

Seringkali merasa menjadi anggota keluarga Buendia karena orangtuanya berasal dari desa yang sama dan masih ada hubungan saudara. Dian Ina sejak kecil menghabiskan waktu luangnya untuk buku, musik, film dan kesenian. Meyakini strategi nirkekerasan sebagai cara untuk melakukan perubahan sehingga menulis tentang U2 dan Generasi Bunga dalam skripsinya. Saat ini tinggal di Ubud dan sehari-hari bekerja bersama media, jurnalis, fotografer dan visual disamping kesibukannya mengelola Komaneka Fine Arts Gallery.

DROP DEAD GORGEOUS

April 20, 2006

Image hosting by Photobucket

“Orangtua saya adalah pemilik tempat bermain pachinko, dan saya mencintai pachinko, jadi pose ini sama sekali nggak sulit. Saya melakukan sesuatu yang saya cintai. Satu-satunya yang saya khawatirkan adalah apa yang kira-kira dipikirkan orangtua saya”

Begitulah yang dikatakan Eiko Koike mengenai pose dalam keadaan seolah-olah meninggal-nya untuk fotografer Izima Kaoru, yang memotretnya untuk proyek buku “The Last View” atau “Saigo ni Mita Fukei” dalam bahasa Jepang. Koike memakai evening dress mini rancangan Versace, yang hanya sedikit saja menutupi dadanya, memandang langit-langit tanpa ekspresi hidup dimatanya, sendiri dan dikelilingi bola-bola pachinko yang bertebaran. Koike ingin terlihat seolah sedang bermain pachinko, mendapatkan jackpot dan tewas karena shock.

Kaoru yang fotografer fashion sudah memotret para model dalam pose kematian sejak tahun 1993. Mulanya karena dia jenuh dengan pose pilihan para editor fashion, yang melulu mengambil scene makan, minum, mobil mewah, atau belanja. Baginya, hidup jauh lebih luas daripada itu, dan kematian adalah salah satu bagian terbesar dalam hidup. Tentu saja ide ini tidak disambut gembira oleh para editor majalah. Toh Kaoru berhasil meyakinkan aktris Kyoko Koizumi, yang disusul dengan sejumlah nama terkenal lainnya seperti UA, Mari Natsuki, atau Michelle Reis.

Image hosting by Photobucket

Menurutku, ide memotret pose kematian ini adalah ide yang brillian. Tak heran saat ini ada antrian panjang untuk menjadi model Kaoru. Seorang model harus menunggu sedikitnya 2 tahun sebelum bisa mengutarakan dalam keadaan seperti apa mereka ingin meninggal. Percaya atau tidak, jawaban seorang perempuan mengenai pose kematian yang diinginkannya jauh lebih menarik daripada laki-laki. Karena itu, foto-foto Kaoru nyaris seluruhnya menampilkan model perempuan.

Ada yang meninggal dihadapan vending machine. Mungkin ada yang menembaknya waktu sedang membeli minuman kaleng. Yang lain dibunuh seorang pengemudi truk, lalu mayatnya dilemparkan keatas tumpukan tomat merah yang matang. Seorang gadis sedang berjalan kaki disuatu malam di musim dingin, menuju toko serba ada di dekat rumahnya waktu seorang pembunuh berantai beraksi. Ada pula yang dibunuh di ruang tunggu bandara. Salah satu yang fantasinya paling menarik adalah yang meninggal dalam keadaan tergeletak di atas padang rumput. Di dadanya sebuah panah berwarna biru menancap.

Image hosting by Photobucket

Kalo aku jadi model untuk Izima Kaoru, dia boleh memotretku di ruang penyimpanan CD. Aku adalah agen rahasia yang berusaha mencuri bukti yang disembunyikan diantara ribuan CD yang tersimpan di ruangan itu waktu ditembak dari jarak dekat dengan pistol berperedam. Darah membasahi bagian depan kemeja yang kukenakan akibat peluru yang ditembakkan dari punggung dan menembus jantungku. Aku tidak memakai rompi antipeluru hari itu. ID palsu yang tersemat di dadaku juga terkena percikan darah. Ekspresi kaget menghiasi wajahku. Yang menembakku adalah orang yang kukenal, yang tak kuduga akan berkhianat. Di tangan kananku tergenggam erat sebuah tempat CD yang kosong. Sebuah misi yang gagal harus dibayar dengan kematian.

SHOCKING FEELING ON A BLEAK MORNING

February 6, 2006

Image hosting by Photobucket

bagaimana rasanya menerima gambar ini lewat email di suatu pagi? absolutely shocking. a shocking feeling on a bleak morning. begitu bunyi sms yang aku kirimkan pada Yuli Prayitno. seniman yang bikin karya ini.

aku yang pernah setahun lebih bicara di depan mikrofon dan memaksa ribuan orang mendengar celotehanku, informasi yang aku sampaikan, joke garing yang aku siarkan, sampai lagu-lagu yang acapkali aku pilih dengan sesukaku sendiri. ya, memang ada playlist. tapi kan dari playlist itu masih aku juga yang memilih. lagu apa, pada menit dan detik ke berapa aku putarkan. betapa berkuasanya aku atas selera dan telinga orang-orang di yogyakarta waktu itu.

lalu sekarang perasaan ribuan orang itu seperti dikembalikan lagi padaku oleh Yuli. sekarang loe yang dengerin gue. begitu katanya.
sejak dua tahun yang lalu aku kenal Yuli dan ada beberapa karyanya yang aku udah liat. sebagian besar tentu saja nggak aku mengerti. tapi kesenian memang pilihan pribadi, jadi pemahamannya pun sangatlah personal. aku nggak perlu memahami apa yang ingin disampaikan seniman tepat seperti apa yang dia inginkan. yang penting adalah bagaimana perasaan dan tanggapanku tentang sebuah karya. dan di pagi yang dingin dan basah itu, sekali lagi karya Yuli menggangguku.

GIGER FROM HELL

February 1, 2006

diangsurkannya buku itu padaku sambil bertanya apakah aku mengenal nama orang yang menjadi judul buku itu. HR GIGER ARh+. demikian yang tertulis di sampulnya. aku melihat penerbitnya; TASCHEN. mestinya orang ini, siapapun dia, bukanlah orang sembarangan karena penerbit bukunya adalah salah satu penerbit internasional yang baik.

keterangan singkat yang aku terima tentang Giger adalah bahwa dia merupakan seniman yang membuat efek visual untuk film ALIEN. tunggu dulu… aku tau film itu yang akhirnya terdiri dari tiga film berturut-turut. ALIEN 1,2 dan 3. tapi siapa Giger ini? seniman mana yang karyanya menggambarkan dunia yang entah dimana, dengan objek yang merupakan gabungan dari manusia, binatang, makhluk gaib, dan kondom? dengan setting yang serba suram, seperti pabrik tua, tambang yang sudah tak terpakai, galangan kapal yang nyaris karam, atau dunia yang terdiri dari mesin-mesin dan sekrup berkarat?

setiap bagian yang aku baca dari buku tentang Hans Ruedi Giger ini memberiku berbagai kejutan menarik. kejutan pertama, yang menulis pengantar buku ini adalah Timothy Leary, salah satu pahlawan Generasi Bunga yang tentu saja, kontroversial. demikian Leary pada Giger…

Giger, you see more than we domesticated primates. Are you some super-intelligent species? Are you a viral visitor staring with your petalled-poppy eyes into our reproductive organs?

tantu saja pikiran-pikirannya mengejutkan. tapi yang juga menarik adalah bagaimana dia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang hangat dan stabil. sehingga Giger memiliki kedalaman perasaan terhadap ayah dan juga ibunya…
untuk menggambarkan ayah yang melihat bagaimana anaknya nyaris menghancurkan laboratorium apoteknya, mengkoleksi patung-patung lilin dan plastik berbentuk tubuh manusia, membuat guillotine dan kereta hantu lengkap dengan lintasannya di rumah… demikian Giger berkata…

My father was an authoritarian but kind man who never hit me. Except for once. In his place, I would probably have murdered me.

Giger bekerja sama dengan sutradara Scott Ridley untuk menciptakan seluruh makhluk dan benda-benda dalam film Alien. Lalu dia melanjutkannya untuk sejumlah film yang lain seperti Poltergeist II, membuat monster Goho Dohji untu sebuah film Jepang dan menciptakan extraterrestrial beauty dan ghost train untuk film Species. obsesinya pada warna hitam, guillotine, patung lilin, bretel, mesin, revolver, wanita dan imajinasinya terhadap ruang, terowongan, hantu, dewa-dewa dari dunia lain (kalo tau Necronomicon dan Cthulhu, pasti ngerti apa yang aku maksud) terlihat jelas dalam karya-karnyanya. Giger juga nggak membatasi diri, dia bekerja dengan berbagai macam teknik, membuat objek tiga dimensi, dan juga menguasai grafis. tapi tentu saja, seniman yang terkenal pun, tetep aja bermasalah dengan administrasi dan birokrasi.

The Dutch custom once thought my pictures were photos. Where on earth did they think I could have photographed my subjects? In Hell, perhaps? Only after getting an expert to come in specially and certify that my works were indeed air-brushed would they let the pictures through.

kisah pahlawan nggak akan lengkap tanpa sisi tragis. kehidupan pribadi Giger adalah cerita yang sedih. hubungannya selama sembilan tahun dengan aktris Li Tobler berakhir di tahun 1975 ketika Li bunuh diri dengan sebuah pistol. kehilangan yang menghantui karyanya selama bertahun-tahun. pernikahannya dengan Mia Bonzanigo juga hanya bertahan selama 1,5 tahun.

oya, walaupun bukan anggota, Giger pernah hadir dalam sebuah pertemuan internasional Hell’s Angel karena ia mendesain poster untuk kelompok pengendara motor gede itu.

kalo sewaktu-waktu pergi ke Tokyo, atau Chur (di Swiss) mampirlah di Giger Bar untuk minum bersama para alien yang barusan aja mendarat, baik untuk menengok pangkalan mereka di bumi, atau sekedar transit, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jupiter.

www.HRGiger.com
www.HRGigerMuseum.com
www.HRGigerAgent.com
www.Giger.com
www.LittleGiger.com

MENYENTUH LANGIT

January 28, 2006

Image hosting by Photobucket

ya. ini adalah karya Pande Ketut Taman, yang dipasang saat Summit Bali Biennale 2005. Pande Ketut Taman, selama beberapa tahun terakhir tinggal di Muntilan, Magelang. pada saat pembuatan karya ini, sejak akhir Oktober, Taman memindahkan studionya untuk sementara ke Bale Banjar Pande dan praktis setelah libur Idul Fitri, aku membantu Taman mengerjakan karya instalasinya, “Menyentuh Langit”. setiap pagi menjelang siang, aku akan pergi ke Banjar Pande. memotret proses kerja mereka. lalu sorenya, aku akan menunggu mereka di galeri untuk merakit bagian-bagian instalasi yang sudah dikerjakan hari itu.

instalasi itu panjangnya enambelas meter dan bagian yang paling tinggi sekitar dua setengah meter. mula-mula rangka bambu, lalu ikatan-ikatan jerami untuk alas atas, ikatan jerami untuk ornamen struktur, sampai akhirnya ratusan figur yang dibuat dari adonan tepung beras yang digoreng. sebagai pelengkap artistik, Taman memasang senar dari langit-langit galeri menuju karya itu, sedemikian rupa sehingga saat cahaya matahari menerobos masuk, ada permainan cahaya yang mistis dan menakjubkan. hari demi hari, aku mengikuti proses dan merekam nyaris semuanya. setiap hari aku berdiskusi panjang lebar dengan Taman. memahami caranya berpikir, memahami konsep karyanya yang sarat dengan tradisi bali, menemukan lagi semangat komunal yang sudah nyaris lenyap dari dunia nyata. ada banyak sekali yang kudapat dan aku pelajari, dan diatas segalanya adalah percakapanku dengan Taman. walaupun kami bicara dengan bahasa yang berbeda, namun kami punya pemikiran dan pemahaman yang sama.

menyentuh langit berangkat dari konsep yang sama dengan Candi Borobudur. ini adalah karya yang menggambarkan perjalanan manusia. mulai dari penciptaan kemudian perjalanan menuju surga yang berawal dari bawah, mengikuti struktur spiral sampai di puncak. dari orang-orang yang masih belum bisa melepaskan diri dari pengaruh duniawi, yang terlihat dari warna-warna yang mereka kenakan, sampai pada orang-orang yang berhasil mencapai tingkat spiritual yang tinggi. disucikan dan warna yang mereka kenakan menjadi sederhana. putih, cokelat dan kuning. lalu sesampai di puncak, tinggallah dua pilihan. naik ke surga, atau jatuh ke dunia dan lahir kembali. reinkarnasi.

dunia-adalah-fana. Taman menunjukkannya dengan bahan yang dia pergunakan. bambu dan jerami yang lapuk dimakan cuaca dan serangga kecil. boneka-boneka tepung beras goreng yang kemudian basi, membusuk dan tumbuh jamur menutupinya. semua yang ada di dunia ini akan hancur pada saatnya. sama dengan karya ini. yang kemudian lenyap ditelan bumi.

menyentuh langit mendapatkan penghargaan sebagai karya terbaik Bali Biennale 2005

Image hosting by Photobucket

TIGA HARI DALAM SEPATU

January 8, 2006

ini adalah cuplikan ‘Surat Kepada Emili Sabadell’ yang ditulis Hanafi untuk pamerannya di Bentara Budaya, Jakarta.


Emili, setiap kejelasan akan membuka kejelasan yang lain, satu gagasan akan melahirkan gagasan berikutnya, dan kita tinggal di dalam aturan yang sudah ditentukan diawal permukaan, yang lebih penting dari lainnya adalah cara melihat bukan cara melakukan. Cara melihat akan menentukan perilaku hidup, hidup itu sendiri “perlakuan sudut pandang” yang membentuk “kepribadian” dan pertautan antar pribadi disebut “kebudayaan”. Lalu, kebudayaan merias wajah suatu bangsa

Sepatu, ialah wajah kita, sudah berulang kali kau tanyakan kepadaku: Kenapa aku suka sepatu, setiap kita jalan di “Courte Ingles” aku selalu berdiri lama diantara rak sepatu, mengamati sepatu ialah mengamati kepribadian, rupa-rupa wajah sebuah bangsa, melihat sepatu aku terbayang wajah pemiliknya, setiap melihat sepatu aku melihat jalan panjang, seperti mobil dan jarak tempuh, melihat sepatu juga melihat awal sebuah negara dimulai.

Tetapi di negeriku, orang-orang tak punya sepatu, Bapakku hanya punya satu sepatu, itupun lantaran harus memakai sepatu bila mengambil uang pensiunan bekas tentara Veteran, di ujung jalan arah kota, dan orang Toronto tak sedih sedikitpun: di Indonesia tak mengapa tak punya sepatu, sebab disini tak ada musim salju.


Musim panas ini Hanafi, daun-daun jati mulai membuat layang-layang dari daun kering, begitu bunyi sms pertama hari ini, datang dari arah timur, teman lama, Afrizal Malna. Tetapi bulan Mei ini masih mengirim air hujan di malam hari, mengetuk kaca jendela rumahku dan membuat punggung kolam seperti cahaya beribu kunang-kunang dan Afrizal: di Jakarta ada orang yang masuk dalam sepatuku, ia ingin tidur disana meminjam mimpi-mimpiku. Lalu setiap aku ingin memasukkan kakiku ia berontak, ia akan tinggal disana untuk waktu yang tidak ditentukan.

“Aku bisa tinggal dimanapun aku harus tinggal, tidurlah dalam sepatuku, raih mimpi tentang keabadian, tentang syurga yang terbuat dari kulit jeruk, pulut kulitnya jadikan sutera atau kelambu yang menjaga tidurmu, tidurlah sayang…”


Emili Sabadell, apabila suatu hari nanti ada orang yang masuk dalam sepatumu, biarkan saja, sebab orang itu ingin kegelapan diluar matanya sendiri, setiap sepatu tak memiliki ventilasi yang cukup, pengap disana, seperti kota yang dibangun tanpa rencana, tiba-tiba dan tergesa, sebuah kota tak pernah menyediakan waktu untuk duduk sejenak: memandang hijau daun-daun Mapel digoyangkan angin, memanggil malam menjadi purnama.


Hari ini aku mendapat cukup banyak surat aku tak perlu membuka semuanya di hari yang menyimpan detik-detik akhir musim hujan, tetapi tiba-tiba aku tertarik oleh satu surat yang berbadan tebal. Surat tebal itu berisi sebuah kisah sedih: Bila sampai waktu yang ditentukan aku tak mendapatkan sepatu, aku tak akan diperkenankan mengikuti Ujian Akhir Nasional, dengan begitu pupuslah hari depanku… surat itu datang dari Sumatera Selatan dan ia membayar tiga ribu rupiah untuk sampai di rumahku. Kenapa kita tidak belajar dibawah pohon-pohon besar saja, setiap musim panas tiba kita bisa membuat layang-layang dari daun kering. Bukankah anak-anak suka menerbangkan kapas dibawah pohon-pohon randu tanpa sepatu.


Tapi kenapa Emili, kini ada orang tidur dalam sepatuku, setiap aku hendak memasukkan kakiku, ia memberontak ingin menikamku…, kenapa ia demikian hasrat: menelikungku…

kukatakan pada Hanafi, aku membaca sindir dan suratan hatinya dengan senang hati, karena ia tak berusaha menegak-negakkan kebenaran dan tak pula menghujat dengan kasar, maka dengan demikian, ungkapnya jadi mengena…

RIVERS AND TIDES AND ARTS

January 6, 2006

… there are always these.. possessive.. forms that you cannot get rid of…

pemandangan diiluar jendela pesawat adalah sungai yang berkelok kelok seperti pola gerak ular air. sungai yang membelah hamparan hutan dan luasan yang hijau, dalam perjalanan ke nova scotia di kanada.

bentuk sungai itu nantinya terus tampak sepanjang film ‘rivers and tides’ yang merupakan dokumenter proses kerja dan karya andy goldworthy, seniman dari inggris. goldworthy berkarya dengan alam. batu, daun, ranting, jerami, bunga, lumut, pasir, salju, bongkahan es, kepingan bata…
ia memainkan warna dan material yang dia temukan di alam untuk membuat karya. yang menarik dan secepatnya lenyap. juga karena alam. kayu dan ranting yang disusun sedemikian serupa igloo diatas bebatuan diantara sungai dan laut. yang kemudian ketika pasang datang, karya itu dihanyutkan oleh air laut (atau sungai) seketika itu juga.

oliver yang mengenalkanku pada seniman ini.
sejak akhir bulan lalu, dia bilang kalau dia punya sesuatu yang mungkin akan aku suka. waktu akhirnya kami punya waktu untuk ketemu dan ngobrol, dia memberiku dvd film itu. dengan penuh semangat dia bercerita tentang andy goldworthy dan karyanya, bagaimana dan kenapa…

goldworthy membuat karya dari kerucut es di bongkahan besar batu dipinggir laut. tidak seperti dalam foto dimana esnya melingkar, dalam film kerucut es itu seolah-oleh menembus batu, berkelok-kelok keluar masuk bebatuan dan akhirnya mencuat keatas. ketika karya itu selesai, sinar matahari senja jatuh tepat di kedua sisi bongkah batu dan membuat kerucut es itu berpendar oranye. awesome!
namun tentu saja, sinar matahari yang membuat karya itu keliatan keren adalah juga yang bikin kerucut esnya mencair lebih cepat…

Image hosting by Photobucket

and all of efforts are ultimately going into trying to make something that they did it as effortless…