Dian Ina

About Me

Seringkali merasa menjadi anggota keluarga Buendia karena orangtuanya berasal dari desa yang sama dan masih ada hubungan saudara. Dian Ina sejak kecil menghabiskan waktu luangnya untuk buku, musik, film dan kesenian. Meyakini strategi nirkekerasan sebagai cara untuk melakukan perubahan sehingga menulis tentang U2 dan Generasi Bunga dalam skripsinya. Saat ini tinggal di Ubud dan sehari-hari bekerja bersama media, jurnalis, fotografer dan visual disamping kesibukannya mengelola Komaneka Fine Arts Gallery.

MENCINTAI BATIK

March 8, 2006

Image hosting by Photobucket

Aku lahir di Jawa, dari ayah dan ibu yang berdarah Jawa, dan kadang-kadang masih merasa diriku sebagai orang Jawa. Meskipun dalam banyak kesempatan aku kesulitan mendeskripsikan diriku, karena terlepas dari urusan keturunan, aku lebih merasa sebagai orang Kalimantan, dan sekarang orang Ubud. Kalau ada satu hal yang akhir-akhir ini mengusik identitas dan perasaan ke-Jawa-anku, itu adalah Batik. Di galeri, setiap hari aku berurusan dengan Batik berkualitas tinggi yang sangat halus dan baik buatannya.

Karena sebuah tugas, akhir minggu lalu aku menghabiskan dua hari mempelajari buku-buku tentang batik dan membuat ulasan pendek mengenai berbagai macam jenis batik koleksi Komaneka. Aku harus belajar dari awal, dan itu sangat melelahkan, menyerap begitu banyak informasi dalam waktu yang sangat singkat, tetapi proses itu adalah juga proses yang sangat menyenangkan ketika aku mulai berhasil menguasainya. Aku belajar mengenal Batik dari berbagai daerah, misalnya Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, Kudus, Lasem, Cirebon, Pacitan, Wonogiri, Indramayu bahkan Madura. Aku juga mengenal berbagai jenis motif batik, baik berdasarkan daerahnya, pewarnaan, teknik pembuatan, dan berdasarkan periode.

Beberapa motif yang aku kenal dengan baik sekarang ini diantaranya Parang dan berbagai variasinya, seperti Parang Barong, Parang Rusak, Parang Kesit, Parang Kesit Tumaruntum, Udan Liris, Truntum, Lereng Cemeng, Taman Terate, berbagai jenis Batik Buketan, Paksi Naga Liman, Kembang Randu, Mega Mendung, Alas-Alasan dan beberapa macam variasi Lokcan.

Pembagian berdasarkan periode dan motif adalah yang paling sulit karena ada sejumlah motif yang mula-mula dianggap terlarang, karena hanya boleh dipakai oleh bangsawan dan keluarga raja,seperti misalnya parang dan beberapa jenis motif lereng dan nitik, pada akhirnya menjadi motif yang juga dipakai orang kebanyakan. ada pula motif yang berkembang pada tahun tertentu saja, seperti misalnya Batik pada periode Perang Dunia II dan batik yang dipengaruhi Belanda. Yang terakhir ini sangat aku kagumi, karena orang-orang tua kita di masa lalu mem-filter pengaruh asing dengan menyerapnya, dan memasukkannya ke dalam budaya yang sudah kita miliki. Batik. Puluhan gambar di dalam buku-buku itu menunjukkan para Nyonya Belanda dan Cina memakai kebaya dan batik untuk busana sehari-harinya.

Motif yang paling romantis menurutku adalah Udan Liris. Kata tersebut bermakna Hujan Gerimis, yang mengingatkanku pada bau tanah basah selepas gerimis, udara yang dipenuhi aroma hujan yang segar, dan ribuan jarum yang turun perlahan seperti tirai di hadapan mata. Udan Liris adalah salah satu motif Larangan, yang populer baik di Yogyakarta maupun di Surakarta. Motif ini adalah gabungan dari berbagai motif, yang semuanya dikerjakan dalam pola diagonal yang halus. mulai dari parang, ular, garis zig-zag, titik, daun dan sulur bunga, menjadi rangkaian yang sangat menarik. Foto Udan Liris aku pasang disini.

Sepertinya aku akan menyambut tawaran untuk belajar membuat batik dari siapapun saat ini.

RUMAH BAMBU

January 15, 2006

aku tertarik pada judulnya karena mengingatkanku pada salah satu keinginanku dimasa remaja. kamar tidur yang sepenuhnya terbuat dari bambu. sayangnya keinginan itu tidak tercapai karena papa lebih suka rumah yang terbuat dari tembok.
seperti halnya buku-buku Y.B Mangunwijaya yang lain, Rumah Bambu adalah potret kehidupan orang-orang yang hadir dalam keseharian Romo Mangun. orang miskin, orang yang terpinggirkan, orang yang selalu tersisih dalam standar hidup dimana pencitraan diukur dengan jumlah uang dan gaya yang mentereng.

buku ini adalah kumpulan cerpen yang pertama dan terakhir karangan Romo Mangun yang pernah diterbitkan. semua cerpennya berangkat dari cerita yang remeh dan biasa. nggak ada yang istimewa, nggak ada yang hiperbola, nggak ada kenyataan yang menakjubkan seperti misalnya udara yang sangat lembab sehingga ikan-ikan bisa berenang disitu. Romo Mangun bercerita tentang pemuda desa yang kehabisan akal sehingga memilih bekerja menjadi pengamen waria, anak kecil yang mencuri sekaleng cat, pembelah batu di sungai, anak yang kabur dari rumah untuk jadi kernet colt, anak penebang kayu yang sangat suka membaca…sebuah rumah kayu yang dibangun seorang jongos motel untuk istri dan anaknya.

sebagian ceritanya bernada getir. sebagian lagi bikin mau marah, dan yang lain bikin jadi geli, tapi juga sebal. yang paling lucu dan getir buatku adalah kisah Baridin. pemuda desa yang kulitnya hitam keling dan mengganjal dadanya dengan kapuk randu, memakai kain batik dan kebaya merah darah menerawang, stagen dan selendang untuk berpura-pura menjadi waria dan menyanyi lagu dangdut, dengan simbal yang dipinjamnya dari perkumpulan Zamroh. waktu berdandan, ia menyebut dirinya seperti binteng, manisan jahe tradisional hitam yang selalu dijual dalam selimut tepung beras putih.

manis tapi menjijikkan. bedaknya rata tapi nggak pantas. belum lagi ketika bekerja, tukang becak dan pedagang di pasar pecinan menggodanya.
“kamu sumpel apa tetekmu itu, cah bagus?” tanya mbok pedagang.
“supermi!” jawab tukang becak.

aku jadi berpikir, jangan-jangan waria yang membawa kecrekan, yang setiap malam bernyanyi di sekitar tugu jogja, setasiun tugu, sampai malioboro dan nyaris selalu menyanyikan lagu Garuda Pancasila itu sebetulnya Baridin yang lain.