Dian Ina

About Me

Seringkali merasa menjadi anggota keluarga Buendia karena orangtuanya berasal dari desa yang sama dan masih ada hubungan saudara. Dian Ina sejak kecil menghabiskan waktu luangnya untuk buku, musik, film dan kesenian. Meyakini strategi nirkekerasan sebagai cara untuk melakukan perubahan sehingga menulis tentang U2 dan Generasi Bunga dalam skripsinya. Saat ini tinggal di Ubud dan sehari-hari bekerja bersama media, jurnalis, fotografer dan visual disamping kesibukannya mengelola Komaneka Fine Arts Gallery.

CATATAN KEKAGUMAN

February 21, 2006

Image hosting by Photobucket

Ada sejumlah alasan mengapa Ubud menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Udaranya sejuk dan relatif bebas dari polusi, pemandangannya indah dan masih alami, atmosfer kesenian yang sangat kuat, kebudayaan Bali yang masih kental dan bisa dirasakan kehadirannya, tidak macet, tidak ada kesulitan mencari kebutuhan sehari-hari karena terdapat pasar dan supermarket dan sejumlah toko 24 jam yang cukup lengkap, restoran dan hotel berstandar internasional pun nggak sulit untuk dicari. Hanya ada satu yang nggak aku perhitungkan ketika mulai tinggal disini. Ubud memiliki musisi yang luar biasa, dengan reputasi dan pengalaman internasional yang nggak main-main.

Balawan namanya. Tak pernah terbersit dalam pikiranku kalau aku akan berkesempatan menyaksikan pertunjukannya disini. Aku sudah bertemu dengan banyak musisi, artis, atau apalah namanya dari pekerjaankku sebelumnya, dan baru kali ini aku menaruh kagum lagi. Setelah sebelumnya kekaguman itu kuberikan pada Chrisye. Perjalanan karir Balawan sudah banyak ditulis. Disini aku lebih tertarik menuliskan opini pribadiku tentang Balawan.

Hal pertama yang patut dicatat dari Balawan tentu saja adalah kemampuannya memainkan gitar, kemampuannya menginterpretasi sebuah lagu menjadi sama sekali baru (dan seringkali lebih baik daripada ketika dibawakan penyanyi aslinya) serta kemampuannya memberikan roh pada musik yang dia mainkan. Balawan adalah juga penghibur yang baik. Dalam setiap pertunjukannya, dia bisa mengendalikan suasana dan mengetahui, bagaimana cara mengolah emosi penonton sehingga dinamika pertunjukan tetap terjaga.

Hal kedua adalah kepribadiannya yang rendah hati. Dengan kemampuan dan pengalaman yang sudah teruji, ia memiliki semua alasan untuk berbangga diri. Alih-alih menepuk dada, ia justru menanggapi kemampuannya dengan ringan. Tidak sombong, tidak menafikkan, tetapi ringan. Seolah tanpa beban. Dalam salah satu pertunjukannya dengan Trio di Ubud, dia berkata “Jangan shock karena saya bisa mengeluarkan berbagai suara dari gitar ini. Ini adalah bantuan dari teknologi untuk menyiasati situasi bermain hanya dengan tiga orang”.
Aku pernah tau gitaris lain yang justru semakin menjadi-jadi ketika penonton menyorakinya waktu bermain gitar sambil berganti-ganti efek.

Kesederhanaannya adalah hal yang lain. Kalau tidak sedang memainkan gitar diatas panggung, mungkin dia tidak akan bisa dikenali. Auranya juga berbeda. Kalau dia sedang tidak berada diatas panggung, cobalah bicara padanya. Ada bagian dari dirinya yang tidak pernah menjadi dewasa. Polos dan sederhana, seperti kanak-kanak yang lugu. Kalau bukan karena dia berada di hadapanku waktu sedang berbicara, aku nggak akan percaya kalau aku sedang menghadapi laki-laki berusia 33 tahun dengan begitu banyak kemampuan dan pengalaman.

Aku berharap ada lebih banyak musisi sebaik dia.

PS: Image Balawan aku ambil dari website ini

SHOCKING FEELING ON A BLEAK MORNING

February 6, 2006

Image hosting by Photobucket

bagaimana rasanya menerima gambar ini lewat email di suatu pagi? absolutely shocking. a shocking feeling on a bleak morning. begitu bunyi sms yang aku kirimkan pada Yuli Prayitno. seniman yang bikin karya ini.

aku yang pernah setahun lebih bicara di depan mikrofon dan memaksa ribuan orang mendengar celotehanku, informasi yang aku sampaikan, joke garing yang aku siarkan, sampai lagu-lagu yang acapkali aku pilih dengan sesukaku sendiri. ya, memang ada playlist. tapi kan dari playlist itu masih aku juga yang memilih. lagu apa, pada menit dan detik ke berapa aku putarkan. betapa berkuasanya aku atas selera dan telinga orang-orang di yogyakarta waktu itu.

lalu sekarang perasaan ribuan orang itu seperti dikembalikan lagi padaku oleh Yuli. sekarang loe yang dengerin gue. begitu katanya.
sejak dua tahun yang lalu aku kenal Yuli dan ada beberapa karyanya yang aku udah liat. sebagian besar tentu saja nggak aku mengerti. tapi kesenian memang pilihan pribadi, jadi pemahamannya pun sangatlah personal. aku nggak perlu memahami apa yang ingin disampaikan seniman tepat seperti apa yang dia inginkan. yang penting adalah bagaimana perasaan dan tanggapanku tentang sebuah karya. dan di pagi yang dingin dan basah itu, sekali lagi karya Yuli menggangguku.

GIGER FROM HELL

February 1, 2006

diangsurkannya buku itu padaku sambil bertanya apakah aku mengenal nama orang yang menjadi judul buku itu. HR GIGER ARh+. demikian yang tertulis di sampulnya. aku melihat penerbitnya; TASCHEN. mestinya orang ini, siapapun dia, bukanlah orang sembarangan karena penerbit bukunya adalah salah satu penerbit internasional yang baik.

keterangan singkat yang aku terima tentang Giger adalah bahwa dia merupakan seniman yang membuat efek visual untuk film ALIEN. tunggu dulu… aku tau film itu yang akhirnya terdiri dari tiga film berturut-turut. ALIEN 1,2 dan 3. tapi siapa Giger ini? seniman mana yang karyanya menggambarkan dunia yang entah dimana, dengan objek yang merupakan gabungan dari manusia, binatang, makhluk gaib, dan kondom? dengan setting yang serba suram, seperti pabrik tua, tambang yang sudah tak terpakai, galangan kapal yang nyaris karam, atau dunia yang terdiri dari mesin-mesin dan sekrup berkarat?

setiap bagian yang aku baca dari buku tentang Hans Ruedi Giger ini memberiku berbagai kejutan menarik. kejutan pertama, yang menulis pengantar buku ini adalah Timothy Leary, salah satu pahlawan Generasi Bunga yang tentu saja, kontroversial. demikian Leary pada Giger…

Giger, you see more than we domesticated primates. Are you some super-intelligent species? Are you a viral visitor staring with your petalled-poppy eyes into our reproductive organs?

tantu saja pikiran-pikirannya mengejutkan. tapi yang juga menarik adalah bagaimana dia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang hangat dan stabil. sehingga Giger memiliki kedalaman perasaan terhadap ayah dan juga ibunya…
untuk menggambarkan ayah yang melihat bagaimana anaknya nyaris menghancurkan laboratorium apoteknya, mengkoleksi patung-patung lilin dan plastik berbentuk tubuh manusia, membuat guillotine dan kereta hantu lengkap dengan lintasannya di rumah… demikian Giger berkata…

My father was an authoritarian but kind man who never hit me. Except for once. In his place, I would probably have murdered me.

Giger bekerja sama dengan sutradara Scott Ridley untuk menciptakan seluruh makhluk dan benda-benda dalam film Alien. Lalu dia melanjutkannya untuk sejumlah film yang lain seperti Poltergeist II, membuat monster Goho Dohji untu sebuah film Jepang dan menciptakan extraterrestrial beauty dan ghost train untuk film Species. obsesinya pada warna hitam, guillotine, patung lilin, bretel, mesin, revolver, wanita dan imajinasinya terhadap ruang, terowongan, hantu, dewa-dewa dari dunia lain (kalo tau Necronomicon dan Cthulhu, pasti ngerti apa yang aku maksud) terlihat jelas dalam karya-karnyanya. Giger juga nggak membatasi diri, dia bekerja dengan berbagai macam teknik, membuat objek tiga dimensi, dan juga menguasai grafis. tapi tentu saja, seniman yang terkenal pun, tetep aja bermasalah dengan administrasi dan birokrasi.

The Dutch custom once thought my pictures were photos. Where on earth did they think I could have photographed my subjects? In Hell, perhaps? Only after getting an expert to come in specially and certify that my works were indeed air-brushed would they let the pictures through.

kisah pahlawan nggak akan lengkap tanpa sisi tragis. kehidupan pribadi Giger adalah cerita yang sedih. hubungannya selama sembilan tahun dengan aktris Li Tobler berakhir di tahun 1975 ketika Li bunuh diri dengan sebuah pistol. kehilangan yang menghantui karyanya selama bertahun-tahun. pernikahannya dengan Mia Bonzanigo juga hanya bertahan selama 1,5 tahun.

oya, walaupun bukan anggota, Giger pernah hadir dalam sebuah pertemuan internasional Hell’s Angel karena ia mendesain poster untuk kelompok pengendara motor gede itu.

kalo sewaktu-waktu pergi ke Tokyo, atau Chur (di Swiss) mampirlah di Giger Bar untuk minum bersama para alien yang barusan aja mendarat, baik untuk menengok pangkalan mereka di bumi, atau sekedar transit, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jupiter.

www.HRGiger.com
www.HRGigerMuseum.com
www.HRGigerAgent.com
www.Giger.com
www.LittleGiger.com