ESTHAPAPPYCHACHEN KUTTAPPEN PETER MON
January 25, 2006demikian nama panggilan Esthappen Yako, tokoh favoritku dalam The God of Small Things. Arundhati Roy benar-benar berhasil menghidupkan untukku dua orang anak kembar yang jiwanya kembar siam, Estha dan Rahel. dan berhasil pula membawaku ke India. Ke Ayemenem, ke Kottayam, ke Kerala. Estha jadi tokoh favoritku karena dia tergila-gila pada kebersihan, karena dia pergi berbelanja (bawang, brinjal dan tomat) dan selalu mendapatkan tambahan seuntai daun ketumbar dan cabe hijau. karena warna kulit Estha seperti madu dan dia mencuci pakaian dengan sabun berwarna biru. Estha berhenti bicara sejak lama dan dia menyatu dengan apapun…dimanapun…tak dikenali, tak mengganggu.
bagiku, hal yang paling mengagumkan dalam buku ini adalah bagaimana alur cerita dibangun. bagaimana dalam setiap bab, selalu ada kejadian yang patut disimak, dan tidak hanya satu bab saja yang berisi hal yang menegangkan. bab-bab awal tidak bercerita mengenai pengenalan tokoh saja. dan bagian akhir tidak berarti klimaks. kadang-kadang segala sesuatu di dalamnya berlangsung dengan cepat. kadang lambat dan halus. kadang melompat-lompat seperti kodok yang licin dan basah, dari satu daun teratai ke daun teratai yang lain di kolam.
aku nggak tau bagaimana orang lain melihat buku ini. tapi bagiku, nggak jadi masalah kalau membaca buku ini dari tengah, lalu mundur ke bagian awal dan kemudian melanjutkannya ke belakang. urutan membaca akan menentukan, apakah kita akan kenal lebih dulu dengan Ammu, Baba, Baby Kochamma, Mamachi, Papachi, Velutha, Chacko, Margaret Kochamma, Sophie Mol, Joe, Vellya Paapen, Comrade K. N. M. Pillai, Inspector Thomas Matthew, Kochu Maria, atau Rahel…atau Estha… dua anak kembar tanpa nama keluarga, karena Ammu tidak bisa memutuskan, akan memakai nama belakang dari Baba atau Papachi. sampai dia meninggal.
sejatinya, ini adalah kisah cinta yang diperkeruh oleh perbedaan kasta, suasana politik dan ketidaksetaraan gender. its’ about the Love Laws. The laws that lay down who should be loved and how. and how much. ketika mengetahui Velutha yang Paravan dan Ammu saling mencintai, Mamachi dan Baby Kochama yang picik lalu menguncinya di dalam kamar. Estha dan Rahel yang baru berusia tujuh tahun dan sama sekali nggak ngerti apa-apa menanyakan pada Ammu apa yang terjadi. dalam kemarahan dan keputusasaan, Ammu memarahi mereka, menyebut mereka beban yang menjerat leher. Estha yang ketakutan akan kehadiran Orangedrink Lemondrink Man dan mendengar kata-kata Ammu memutuskan bahwa dia dan Rahel harus segera kabur. walaupun saat itu gelap dan dingin. Sophie Mol berusaha keras meyakinkan kedua sepupunya untuk ikut serta. Mereka naik perahu yang jadi saksi kisah cinta Ammu dan Velutha, di tengah malam buta. menyeberang sungai yang meluap karena hujan menuju Rumah Sejarah. mereka berhasil sampai di sana, tapi Sophie Mol yang tidak bisa berenang terseret arus, dan tak bisa diselamatkan. kematian Sophie Mol membuat Chacko murka, yang kemudian menyalahkan Ammu, janda yang kembali ke rumah orang tuanya setelah perceraian. Kemasi tasmu dan pergilah! katanya pada Ammu. kemarahan dan dukacita Chacko membuat Estha dan Rahel dipisahkan. membuatnya pergi ke Kanada dan tak pernah kembali ke Ayemenem. walaupun cerita tak berakhir disitu.
A quiet bubble floating on a sea of noise. adalah kalimat terbaik yang ditulis Arundhati Roy tentang Estha.