Dian Ina

About Me

Seringkali merasa menjadi anggota keluarga Buendia karena orangtuanya berasal dari desa yang sama dan masih ada hubungan saudara. Dian Ina sejak kecil menghabiskan waktu luangnya untuk buku, musik, film dan kesenian. Meyakini strategi nirkekerasan sebagai cara untuk melakukan perubahan sehingga menulis tentang U2 dan Generasi Bunga dalam skripsinya. Saat ini tinggal di Ubud dan sehari-hari bekerja bersama media, jurnalis, fotografer dan visual disamping kesibukannya mengelola Komaneka Fine Arts Gallery.

DAN KAU BERI NYAWA…

January 24, 2006

piano itu ada disana setiap hari. di lantai dua galeriku, tepatnya di sudut antara puncak tangga dengan pintu ke arah ruang kerja pak Koman. kadang-kadang aku duduk didepannya. mencoba memainkan beberapa nada dengan canggung sambil mengingat-ingat pelajaran yang pernah kuterima dulu. tak jarang ada yang datang dan duduk di depannya, lalu memainkan berbagai lagu. ada yang selalu memainkan komposisi yang sama. seperti sedang berlatih selama beberapa jam dengan piano itu. ada pula yang datang untuk memainkannya sambil menyanyi. ah… suara si penyanyi ditingkahi suara piano. aku rasa si grand piano hitam ingin supaya dia berhenti menyanyi, sama sepertiku. ada pula seorang kaukasian berambut pirang selalu memainkan lagu-lagu yang sedih dan pilu. sampai aku duduk dengan tegak diruanganku sambil berpikir mungkin si pemain piano sedang patah hati.

belum pernah ada yang memainkannya seperti Kazue Inoue.

Image hosting by Photobucket

hari itu, minggu, 18 Desember 2005… untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat sebuah piano seperti bernyawa. bukan lagi sekedar sebuah instrumen yang dipakai untuk memainkan lagu. Kazue Inoue memberi… ah, tepatnya memindahkan nyawanya ke dalam piano hitam dilantai dua galeriku. lalu dengan piano hitam itu dia bicara, bercerita dan tertawa. aku nggak tau komposisi apa yang dia mainkan. tidak penting apakah itu Weber, Chopin atau Mozart. yang jelas, aku bisa memahami ceritanya. mengerti bahwa cerita ini adalah cerita gembira, sedih, tegang, bahkan memahami bahwa tokoh dalam cerita yang disampaikan piano itu, sedang menjalani sesuatu yang misterius dan rahasia, yang membuat dia harus berjalan mengendap-endap dan bicara dengan suara lirih, supaya nggak ketahuan. lalu di bagian yang lain, tampaknya si tokoh sedang bersenang hati, menikmati suasana pagi yang indah dengan burung yang berkicau dan matahari yang bersinar lembut. entah apa kisahnya, tapi aku berdiri terpaku disana, menatap jemarinya yang lincah diatas tuts piano dan di benakku ada padang rumput yang luas, petak-petak bunga dan kolam yang airnya berwarna keperakan tertimpa cahaya mentari.

terima kasih karena telah mengajakku sampai kesana dengan musikmu, Kazue-san. aku tak akan melupakanmu.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://alamanda.blogsome.com/2006/01/24/dan-kau-beri-nyawa/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>