RUMAH BAMBU
January 15, 2006aku tertarik pada judulnya karena mengingatkanku pada salah satu keinginanku dimasa remaja. kamar tidur yang sepenuhnya terbuat dari bambu. sayangnya keinginan itu tidak tercapai karena papa lebih suka rumah yang terbuat dari tembok.
seperti halnya buku-buku Y.B Mangunwijaya yang lain, Rumah Bambu adalah potret kehidupan orang-orang yang hadir dalam keseharian Romo Mangun. orang miskin, orang yang terpinggirkan, orang yang selalu tersisih dalam standar hidup dimana pencitraan diukur dengan jumlah uang dan gaya yang mentereng.
buku ini adalah kumpulan cerpen yang pertama dan terakhir karangan Romo Mangun yang pernah diterbitkan. semua cerpennya berangkat dari cerita yang remeh dan biasa. nggak ada yang istimewa, nggak ada yang hiperbola, nggak ada kenyataan yang menakjubkan seperti misalnya udara yang sangat lembab sehingga ikan-ikan bisa berenang disitu. Romo Mangun bercerita tentang pemuda desa yang kehabisan akal sehingga memilih bekerja menjadi pengamen waria, anak kecil yang mencuri sekaleng cat, pembelah batu di sungai, anak yang kabur dari rumah untuk jadi kernet colt, anak penebang kayu yang sangat suka membaca…sebuah rumah kayu yang dibangun seorang jongos motel untuk istri dan anaknya.
sebagian ceritanya bernada getir. sebagian lagi bikin mau marah, dan yang lain bikin jadi geli, tapi juga sebal. yang paling lucu dan getir buatku adalah kisah Baridin. pemuda desa yang kulitnya hitam keling dan mengganjal dadanya dengan kapuk randu, memakai kain batik dan kebaya merah darah menerawang, stagen dan selendang untuk berpura-pura menjadi waria dan menyanyi lagu dangdut, dengan simbal yang dipinjamnya dari perkumpulan Zamroh. waktu berdandan, ia menyebut dirinya seperti binteng, manisan jahe tradisional hitam yang selalu dijual dalam selimut tepung beras putih.
manis tapi menjijikkan. bedaknya rata tapi nggak pantas. belum lagi ketika bekerja, tukang becak dan pedagang di pasar pecinan menggodanya.
“kamu sumpel apa tetekmu itu, cah bagus?” tanya mbok pedagang.
“supermi!” jawab tukang becak.
aku jadi berpikir, jangan-jangan waria yang membawa kecrekan, yang setiap malam bernyanyi di sekitar tugu jogja, setasiun tugu, sampai malioboro dan nyaris selalu menyanyikan lagu Garuda Pancasila itu sebetulnya Baridin yang lain.